Seiring dengan berjalannya waktu, berkembangnya teknologi dan ragam kepentingan dan kebutuhan masyarakat, televisi saat ini telah menjelma menjadi sosok penghibur, pemberi informasi, media komunikasi, media pemasaran dan media aktualisasi.
Tak luput dari itu semua ternyata televisi, memiliki satu karakter yang cukup berbahaya yaitu merupakan media kapitalisme. Melalui televisi, semua orang seolah diajak untuk berfikir mengedepankan materi, dari tidak tau produk brand A menjadi tau, dari sekedar menggunakan produk B menjadi tau produk sejenis produk B lainnya yang lebih ini dan itu-nya dari produk B. Dari tidak berniat mencicipi masakan jenis C jadi tertarik untuk mencoba, dan segala macam dari gak butuh menjadi butuh, dari engga ingin jadi ingin banget…
Itulah televisi, punya daya tarik magis yang sangat evektif untuk mengajak kita menjadi konsumtif. Seolah hal ini mewabah dan bahkan masyarakat kebanyakan pun menyadari dengan pasti adanya wabah ini, kadang sering kita dengar istilah “korban iklan”, "korban sinetron" yang sering jadi gurauan atau sindiran pada percakapan masyarakat umum. Berarti dapat ditarik kesimpulan bahwa secara sadar masyarakat aware adanya wabah yang ditimbulkan oleh televisi ini.
Wabah konsumtif ini juga dipicu dengan adanya tayangan- tayangan yang merekomendasikan tempat makan tertentu, barang- barang mewah, mobil- mobil keluaran baru dan lainnya yang bersifat ajakan untuk membeli sesuatu yang lebih menarik, lebih canggih, lebih memuaskan dan lainnya, namun intinya adalah strategi pemasaran bagi produsen dan penyuntikan pola konsumtif bagi pemirsa televisi. Untuk hal ini saya masih merasa nowhere untuk menyalahkan siapa yang salah apabila pola konsumerisme melaju semakin kencangnya saat ini.
Mau menyalahkan produsen, yang jelas tujuan utamanya adalah mencari keuntungan? ataukah menyalahkan penonton televisi? Sebaiknya mengambil jalan tengah dengan meletakkan semuanya dalam posisi normal, sepanjang yang dilakukan oleh para produsen tidak menyalahi norma- norma kemasyarakatan maupun keagamaan serta tidak mengajak masyarakat menuju kebatilan, so why not?tinggal pintar- pintarlah penonton mencerna mana yang perlu ia konsumsi dan ikuti mana yang tidak.
Namun yang menjadi masalah belakangan ini adalah gerak laju kapitalisme kaum pengusaha ini berlari terlalu kencang, sehingga tidak lagi berjalan sesuai dengan persyaratan jalan tengah yang saya sebut diatas. Mereka cenderung mematahkan norma- norma yang ada, dengan alasan adanya perubahan jamanlah, kebutuhan masyarakat akan realitaslah, sampai- sampai menggunakan senjata kebebasan seni sebagai alasan mendasar.
Saat ini tayangan televisi semakin gamblang dan transparan memaparkan fakta dan data, yang terlihat saking begitu transparan-nya sampai tidak mengindahkan kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini adalah anak- anak.
Gaya lari ngejar setoran ala kaum kapitalis ini, melaju kencang tanpa memikirkan dampak pada anak- anak. Pada tayangan kartun yang selama ini notabene-nya adalah tayangan untuk anak, ternyata banyak yang menyajikan adegan kekerasan bahkan nyerempet ke pornografi dan akhlak, let say kartun Shin chan, kita semua sependapat kalau tokoh Shin Chan itu sama sekali tidak mendidik, apakah wajar seorang anak TK mengintip rok gurunya?apakah wajar seorang anak TK suka meniru kebiasaan percintaan ayah dan ibunya?
Lalu tayangan sinetron remaja (SD, SMP dan SMA) yang ditayangkan petang dan kemungkinan masih jutaan pasang mata anak- anak sedang memelototi televisi, sementara tayangan sinetron itu bukan cuma menggambarkan, menurut saya ya, tapi juga memprovokasi anak- anak untuk bertindak amoral, let say, anak SMP pacaran trus cium- ciuman (maaf ya kasar kedengerannya soalnya gak dapet padanan kata lain yang cukup manis-red), trus penggambaran persaingan remaja putri memperebutkan cowok menggunakan cara- cara kekerasan, acara talk show ataupun komedi situasi yang menggunakan joke- joke sex yang vulgar, dan parahnya tayangan kekerasan kelas berat kayak smack down gampang saja dipertontonkan di jam rentan tersebut, dengan alasan rating tinggi, tanpa mengindahkan dampak gila yang ditimbulkannya.
Tragedi smack down yang cukup banyak menelan korban belakangan ini, semestinya menjadi pelajaran buat kita untuk lebih kritis berteriak kepada pemerintah supaya menjewer para pemain di industri pertelevisian untuk kembali ke jalur bisnis normal.
Saya lagi berfikir, mau sebanyak apa lagi korban yang jatuh karena tayangan televisi kalau kita tidak cermat, jikalaupun kita telah cermat mungkinkah anak- anak kita bisa tetap selamat dari bahaya wabah televisi? Toh pada tragedy smack down banyak anak yang orang tuanya telah cermat untuk melarang tayangan smack down dirumahnaya tetap saja menjadi korbannya.
Jadi tidak menutup kemungkinan apabila kita dan anak- anak kita telah kita cermati, dalam kehidupan sosial diluar rumah tetap saja bisa menjadi korban.
Maka pilihan semakin sulit bagi kita, namapaknya tak ada pilihan lain selain mendorong pemerintah untuk menertibkan industri pertelevisian agar kembali berjalan dengan tertib tanpa menyerempet merusak kepentingan lainnya apalagi menyerempet kepentingan perkembangan moral bangsa.
Dengan ragam informasi yang ditayangkan televisi yang tujuan mulia awalanya adalah untuk membuka cakrawala pemikiran penonton, namun belakangan ini semakin tidak relevan, mungkin sekarang bukan sebagai pembuka cakrawala julukan yang tepat untuk tujuan televisi tetapi pembuka pintu petaka belaka.
Jadi televisi teman atau lawan sih sebenarnya?
From My Mind, My Soul and My Heart
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Tuesday, January 9, 2007
Friday, December 22, 2006
Kemerdekaan Perempuan
“…Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan; saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turut membantu meretas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputra.” (Surat Kartini, Jepara, 7-10-1900)
Rasanya malu hati bila membaca penggalan surat RA Kartini diatas, beliau adalah wanita zaman dulu yang hidup dalam kondisi yang memiliki keterbatasan ruang gerak, pendidikan, informasi dan teknologi, namun beliau sudah memiliki tekat yang luar biasa untuk berjuang demi kemerdekaan kaum perempuan.
Sementara beberapa perempuan- perempuan era sekarang yang jauh lebih beruntung karena memiliki ruang gerak yg lebih luas, berkesempatan mengenyam pendidikan yang tinggi, akses informasi yang mudah serta memiliki kemapanan teknologi, masih saja santai bahkan seolah kurang peduli dengan kepentingan kemerdekaan kaumnya, bahkan kemerdekaan dirinya sendiri.
Saya engga habis fikir dengan sekumpulan perempuan era sekarang yang kebanyakan membunuh kemerdekaannya sendiri. Bayangkan banyak kaum istri yang tidak berdaya untuk bersikap meskipun dihadapan suaminya, bahkan untuk sebagian wanita “mata duitan”, merasa tidak perduli akan kemerdekaannya sendiri, mereka menjadi budak materi dan ujung-ujungnya sama saja yakni memenjarakan nurani dan kemerdekaan hatinya. Dan kebodohan beberapa kaum perempuan ini, mereka diperbudak oleh brand- brand tertentu, mereka berkumpul beramai- ramai saling menunjukan keloyalitasan mereka terhadap benda mati, kebanyakan benda mati yang mereka tuhankan adalah benda bernama belian sekian karat…, tas brand***, sepatu brand ***,mobil kluaran *** dan lainnya, demi keloyalitasan ini mereka rela untuk menjadi buta dan tuli untuk tau dari mana sang suami menyediakan dana untuk hobby istrinya menuhankan benda- benda mati itu. Inilah gambaran perempuan -perempuan kapitalis konsumtif yang tanpa sadar telah membunuh kemerdekaannya sendiri.
Dan ada yang juga sama parahnya, ada sekelumit perempuanyang tidak segan- segan menyakiti perempuan lain dengan cara merebut dan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga perempuan lain hanya karena alasan materi, “ah…yang penting suami dia suka sama saya, siapa suruh suka sama saya, kalo saya sih cuma suka uangnya dia aja”, ujar seorang perempuan simpanan pejabat, di sebuah tayangan televisi. Dan disitulah kita bisa menilai kalau nurani perempuan itu sudah mati teracuni oleh penjara materi.
Banyak pula tingkah polah kaum perempuan era sekarang yang seolah bangga dengan kemerdekaannya terenggut,
“saya iklas suami saya menikah lagi ini wujud bakti saya padanya,karena saya pun yakin beliau mampu menafkahi kami”, ujar perempuan yang baru saja dimadu suaminya.
Dalam hati saya berpikir, bagaimana mungkin wanita ini rela diinjak-injak haknya demi mengabdi pada suaminya. Dan menurutnya masalah selesai hanya karena hidupnya tetap dinafkahi suaminya. Mestikah kaum wanita mengabdi pada suaminya sampai harus membunuh nuraninya sendiri? Saya rasa itu adalah salah satu bentuk penindasan, penindasan apapun yang dilakukan suami merupakan perenggutan kemerdekaan.Saya menyebut perempuan semacam ini adalah kaum pasrah.
Mungkin kita juga sering melihat banyaknya perempuan yang menjadi objek pornografi dan pornoaksi, beberapa perempuan rela menanggalkan pakaian dan kehormatan mereka hanya karena terikat kontrak dan tertantang oleh tawaran kemasyuran. Perempuan- perempuan ini mungkin tidak sadar bahwa mereka tidak mampu mempertahankan kehormatan mereka.Sungguh sudah kehilangan akal sehat…..
Bukan cuma sekelumit perempuan yang konsumtif kapitalis, perempuan pasrah dan golongan perempuan yang kehilangan akal sehat lainnya saja yang membuat perjauangan RA Kartini menjadi menguap begitu , permerintah pun kerap kali menempatkan perempuan dalam kasta ke dua dalam masyarakat, contoh saja dalam hal untuk beberapa urusan di Bank saja perempuan harus meminta persetujuan suami, lalu apakah menurut pemerintah kaum perempuan itu tidak cakap dimata hukum?
Belum lagi lengahnya pemerintah menyikapi praktik penjualan perempuan, seolah pemerintah tutup mata melihat kenyataan ini. Dimana perempuan- perempuan Indonesia dijadikan objek pemuas nafsu di negara orang, dan perempuan Indonesia teraniyaya serta terzalimi di negara orang. Belum lagi nasib para TKI yang kebanyakan kaum perempuan, dan keselamatan mereka pun sangat terancam disana. Rasanya perjuangan RA Kartini hancur berkeping- keeping kalau sudah begini. Mungkin inilah yang bisa saya sebut sebagai penjajahan terhadap perempuan di era modern.
Ini adalah pr untuk kaum perempuan sendiri untuk terus memperbaiki diri dan menuntut hak kita. Karena dari rahim dan perjuangan kita lah Allah menitipkan masa depan bangsa kita.
MUC Legal Councel’s Room, 14 Dec 2006, 17.32
Erry Tri Merryta Riyadi
Sunday, December 17, 2006
Selamat Hari Buruh Migran Internasional!!!!!!!!!!!!!!

Hari ini 18 Desember 2006, hari buruh Migran Internasional, saya cuma make a wish dalam hati, semoga saja TKI Indonesia memperoleh kehidupan dan perhatian lebih dari pemerintah. Selama ini para pahlawan devisa kita itu adalah kaum terjajah dan teraniaya, mereka terancam keselamatannya di negeri orang, dipalak di negeri sendiri dan tak dipedulikan seolah sampah.
Kalau mengikuti hati saya, saya sangat sedih melihat kenyataan ini, mengapa rakyat kita harus cari makan di Negara orang, jadi “bedinde” doang lagi, apakah sesuap nasi, selembar pakaian dan sepetak rumah layak tak mampu disediakan oleh bangsa besar ini kepada rakyatnya?, hingga rakyatnya harus woro- woro “mbabu” di Negara orang?
Saya nangis kalau membayangkan itu, bayangkan rekan-rekan TKI itu sebelum berangkat “mbabu” saja sudah diperah di negaranya sendiri, kebanyakan dari mereka, maksud saya mereka-mereka yang kurang beruntung harus hidup setengah gak layak di penampungan, keluar duit banyak meskipun untuk buang hajat dan hidup empet-empetan kayak ayam yang siap dipotong, itu masih di Negara sendiri, belum dikirim…Pas dikirim, beberapa dari mereka yang engga beruntung, dapet majikan yang kejam berhati tiga perempat iblis, yang rela nyiksa, memperkosa, gak ngasih makan dan yang parah gak digaji, Tuhaaaaan….
Dan nasib buruk gak sampai situ aja, ketika pulang pun mereka harus nerima perlakuan kejam pula dari bangsanya sendiri, Terminal III, adalah momok bagi TKI, disana mereka di palak dan di preteli.
Betapa kompleksnya penderitaan mereka, saya membayangkan saja sudah merinding, kenapa Pemerintah belum melakukan action yang berarti?Saya engga pernah mimpi kok kalo Perintah harus menjadi superman mendadak, saya cuma berharap pemerintah sedikit saja memberi perhatiannya, minimal mulailah tertibkan Terminal III, hentikan pemalakan dan penjarahan TKI disana, mereka adalah pahlawan devisa kita, merekalah korban ketidak berhasilan bangsa ini menghidupi dan memajukan mereka, mengapa mereka harus kembali menjadi sapi perah di terminal kepulangan mereka?Haruskah kita budek dan buta melihat kenyataan ini?
Selamat Hari Buruh Migran Internasional, 18 Desember 2006, Legal Counsel Room, 12:39
Kalau mengikuti hati saya, saya sangat sedih melihat kenyataan ini, mengapa rakyat kita harus cari makan di Negara orang, jadi “bedinde” doang lagi, apakah sesuap nasi, selembar pakaian dan sepetak rumah layak tak mampu disediakan oleh bangsa besar ini kepada rakyatnya?, hingga rakyatnya harus woro- woro “mbabu” di Negara orang?
Saya nangis kalau membayangkan itu, bayangkan rekan-rekan TKI itu sebelum berangkat “mbabu” saja sudah diperah di negaranya sendiri, kebanyakan dari mereka, maksud saya mereka-mereka yang kurang beruntung harus hidup setengah gak layak di penampungan, keluar duit banyak meskipun untuk buang hajat dan hidup empet-empetan kayak ayam yang siap dipotong, itu masih di Negara sendiri, belum dikirim…Pas dikirim, beberapa dari mereka yang engga beruntung, dapet majikan yang kejam berhati tiga perempat iblis, yang rela nyiksa, memperkosa, gak ngasih makan dan yang parah gak digaji, Tuhaaaaan….
Dan nasib buruk gak sampai situ aja, ketika pulang pun mereka harus nerima perlakuan kejam pula dari bangsanya sendiri, Terminal III, adalah momok bagi TKI, disana mereka di palak dan di preteli.
Betapa kompleksnya penderitaan mereka, saya membayangkan saja sudah merinding, kenapa Pemerintah belum melakukan action yang berarti?Saya engga pernah mimpi kok kalo Perintah harus menjadi superman mendadak, saya cuma berharap pemerintah sedikit saja memberi perhatiannya, minimal mulailah tertibkan Terminal III, hentikan pemalakan dan penjarahan TKI disana, mereka adalah pahlawan devisa kita, merekalah korban ketidak berhasilan bangsa ini menghidupi dan memajukan mereka, mengapa mereka harus kembali menjadi sapi perah di terminal kepulangan mereka?Haruskah kita budek dan buta melihat kenyataan ini?
Selamat Hari Buruh Migran Internasional, 18 Desember 2006, Legal Counsel Room, 12:39
Subscribe to:
Posts (Atom)
