From My Mind, My Soul and My Heart

Showing posts with label Dari Saya. Show all posts
Showing posts with label Dari Saya. Show all posts

Thursday, January 4, 2007

Selamat Datang Tahun Baru 2007

Telat ya?saya udah telat ya untuk ngucapin selamat tahun baru?mungkin enggak yah, soalnya inikan baru hari keempat di tahun 2007.
Begitu banyak cerita indah yang telah kita lewati di tahun 2006, tapi jangan lupa masih banyak PR dari tahun 2005 yang juga belum mampu kita selesaikan, ditambah lagi PR kita dari tahun 2006.Bencana- bencana alam yang masih menyisakan PR rekonstruksi, bahkan special case seperti Lumpur lapindo seolah unsolution bagi kita, belum lagi kasus demi kasus moralitas yang mendesak kita terus kerja keras untuk memperbaikinya sebelum menimbulkan efek domino bagi anak- anak bangsa, kasus- kasus korupsi yang tiada habisnya, peredaran Narkoba yang seolah tak terkejar, masalah perekonomian kita yang begitu morat- maritnya, dan segudang masalah bangsa lainnya yang menggedor nurani kita, kadang saya hanya bertanya akankah mampu kita selesaikan semua permasalahan ini?
Dengan berbekal Bismillah dan keteguhan hati, saya yakin kita mampu..., semoga saja Allah masih mengulurkan tangannya dibalik cobaan berat ini..., amien.

Hmmmh...setelah lelah dengan memikirkan kemungkinan kebangkitan bangsa, pada malam tahun baru lalu, saya dan suami memutuskan untuk menghadiri perayaan menyambut tahun baru di kediaman keluarga Om Rantauan janim di Bukit Sentul, bersama Gank 13 meski engga kumpul semua, saya merasa begitu rileks dan bahagia, suatu permulaan yang cukup baik saya rasa untuk memulai lembar baru di tahun 2007 dan semoga kebahagiaan malam itu akan mentransfer energi bagi saya untuk terus memperbaiki diri, amien...
Selamat Tahun Baru ya blogers...

Musibah Jatuhnya Pesawat Adam Air


Ini hari ke empat dari terjadinya bencana hilangnya pesawat Adam Air tujuan Manado, sampai hari ini belum ada kejelasan apakah pesawat naas tersebut jatuh ke laut, kehutan ataukah jangan- jangan meledak di udara?

Situasi sulit ini dipicu dengan terjadinya berita yang cukup simpang siur, kemarin dikabarkan ada 12 orang penumpang yang selamat, setelah dilakukan konferensi pers dan berita tersebut telah meluas tiba- tiba terjadi lagi konfirmasi bahwa berita itu tidak benar, how come?

Memalukan sekaligus menyedihkan, koordinasi macam apa yang terjadi disana disaat situasi penuh duka dan pengharapan ini?

Pencarian terasa begitu sulit, karena pesawat naas tersebut seolah hilang tanpa jejak. Bila jatuh kelaut mengapa tak sedikitpun ada tanda- tanda apungan barang dan deteksi benda logam?

Kalaupun meledak di udara, apa mungkin tak berbekas sama sekali?

Dan kalaupun jatuh di hutan atau pegunungan, mengapa begitu sulitnya dicari padahal armada pencarian telah dikerahkan melalui udara dan daratan.

Rasanya masalah ini membuat kita semua berharap- harap cemas, kemudian kecemasan itu membuat kita melupakan bagaimana bisa terjadinya musibah ini.

Dari beberapa situs berita, disebutkan bahwa pesawat ini telah mengalami masalah 48 jam sebelum terjadi kecelakaan misterius ini. Namun yang patut dipertanyakan, mengapa pesawat yang jelas tidak "fit" masih tetap dipergunakan dalam rentang waktu yang tak berjauhan?bagaimanakah kita dapat mempercayai bagian engine pesawat dapat dengan begitu mudah dan cepatnya menyelesaikan perbaikan pesawat yang telah menelantarkan ratusan penumpang beberapa jam sebelumnya, kemudian pesawat naas itu kembali harus terbang dengan jarak tempuh yang cukup jauh?

Dari hal semacam ini kita bisa menyimpulkan jika pihak Adam Air tidak memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang, seolah nyawa ratusan penumpang dengan begitu mudahnya di pertaruhkan di atas ribuan kaki diatas tanah hanya demi keuntungan pihak perusahaan?

Saya cuma berharap hal ini menjadi teguran keras kalau perlu dianggap tamparan keras bagi semua airlines di Indonesia dan semoga pihak terkait bisa lebih concern terhadap standar "kesehatan" sebuah pesawat untuk terbang.

Semoga juga pemerintah menindak tegas pihak Adam Air dalam masalah ini.

Untuk semua korban, saya masih terus berdoa semoga ada mukjizat yang akan menyelamatkan mereka.

Serta untuk segenap keluarga korban, saya berdoa semoga diberi ketegaran dan ketabahan menghadapi cobaan ini.

Thursday, December 21, 2006

BUKAN PEREMPUAN BIASA


BUKAN PEREMPUAN BIASA


Menu makan harian, belanja bulanan, sekolah anak, ke dokter anak, dateline report, annual meeting bla…bla…bla…
Itu lah “have to do”-nya seorang ibu pekerja zaman sekarang, dimana ritual belanja sudah besanding sejajar dengan ritual annual meeting.
Bukan hal aneh untuk saat ini melihat seorang ibu harus berkejar- kejaran dengan waktu untuk memburu tugas domestic maupun tugas profesionalitasnya, dan waktu seolah bergulir tiada henti. Seolah di tangan para ibu modern itu semua bisa teratasi, dari menu makan harian hingga propinsi, semua sudah dibuktikan jika wanita mampu menggerakannya.
Kadang tak terbayang bagaimana dalam waktu 24 jam semua tugas mampu berjalan dengan 2 tangan, 2 kaki dan satu otak dari seorang manusia berbungkus kelamin perempuan, yang berlomba lari dengan roda kehidupan semraut kota besar, dimana waktu 24 jam terasa begitu singkat seolah membias begitu saja.
Namun bukan hal yang aneh juga ketika kita melihat pada kenyataan ternyata banyak perempuan- perempuan yang ternyata mampu menjalankan semuanya.
Kadang pekerjaan mengatur rumah tangga dianggap hal mudah yang bisa dijadikan pekerjaan sambilan, padahal mengatur rumah tangga adalah pekerjaan yang bisa memakan waktu 24 jam penuh, dan bagi ibu bekerja, kegiatan mengatur rumah tangga harus dipadatkan agar bisa disandingi dengan tanggungjawab kantor, dan mendistribusikan tanggungjawab kepada pembantu ataupun baby sitter adalah jalan keluar yang biasanya dipilih.
Ada hal- hal domestik yang tetap saja tidak mampu didistribusikan, karena bagaimanapun handalnya pembantu rumah tangga maupun baby sitter tidak akan mampu memberi warna cinta dalam rumah tangga. Cinta dan keuletan seorang ibulah yang mampu membangun rumah tangga yang bahagia dan utuh, dimana bukan rahasia lagi bahwa anak-anak yang berkualitas mayoritas dicetak oleh keluarga yang bahagia dan utuh. Karena secara psikologis anak- anak itu tumbuh secara utuh. Jadi peran ibu bukan hal sepele dalam rumah tangga, karena menyangkut asset bangsa yaitu anak- anak.

Dalam urusan pekerjaan yang bersifat profesionalitas, tak jarang kaum perempuan ternyata lebih unggul. Berdasarkan beberapa riset yang ada menunjukkan bahwa prestasi kerja di perkantoran banyak didominasi oleh kaum perempuan.
Dan tak heran pula ketika di dunia kampus, banyak gelar mahasiswa berprestasi yang dikantongi oleh kaum perempuan, entah karena perempuan lebih rajin dan lebih tertib yang membuat fenomena itu menjadi hal yang lumrah di universitas.

Seperti dipaparkan pada majalah Tempo edisi minggu ini (sorry bukan promosi cuma mau kasih sample saja), disana dipaparkan beberapa contoh perempuan Indonesia yang memiliki profesi dan keuletan menjalankan profesi langka dan menantang, yang mungkin selama ini dalam benak semua orang dianggap bahwa profesi itu only for man, tapi kenyataannya perempuan- perempuan mampu mengerjakan semuanya dan mampu mengukir prestasi disana. Dari mulai profesi polisi, bupati, penerbang, sampai buruh panggul, ternyata mampu dikerjakan oleh perempuan.
Tidak ada yang tidak mungkin untuk kaum perempuan untuk saat ini, kita semua punya kemampuan yang sama dengan laki-laki. Banyak institusi pendidikan yang telah fair untuk mengundang kaum perempuan untuk bersaing dengan laki- laki dalam hal pendidikan.

Berarti kita telah melangkah lebih maju saat ini, kita telah memiliki kesempatan untuk membuktikan kompetensi kaum kita. Jadi kita memiliki argument yang kuat untuk menjungkirbalikkan pandangan “perempuan = dapur, sumur dan kasur” yang selama ini direkam dalam pemikiran masyarakat umum.
Tugas untuk kita semua kedepan adalah terus berjuang untuk keselarasan rumah tangga kita sebagai amanah dari Allah dan senantiasa menggali potensi diri kita untuk membuktikan bahwa “kita bisa”. Dan apapun bidang yang kita geluti buktikan bahwa kita bukan perempuan biasa!



(Erry Riyadi, Diantara semraut-nya Jakarta dan dengan semangat menjelang hari ibu, 19 Desember 2006, 11:53)

SELAMAT HARI IBU


IBU


Begitu kompleks bagi kita untuk menjabarkan besarnya arti Ibu dalam kehidupan manusia. Setiap mendengar kata Ibu, maka yang terlintas dalam benak kita adalah sesosok orang penuh kasih, dan bagi sebagian orang berfikiran bahwa Ibu dianggap sebagai ikon kasih sayang, yang sarat akan dekapan kasih, kelembutan dan kedamaian.
Pandangan tentang ibu tidak selesai pada kondisi perempuan yang telah bersuami dan beranak, jika dilihat lebih jauh, sosok perempuan bersuami dan beranak itu hanyalah sebuah baju yang dikenakan oleh kaum Ibu, sebenarnya lebih dari itu semua ada begitu banyak pikulan yang harus ditanggung di pundaknya. Mungkin pandangan yang lebih tepat kepada Ibu adalah mahluk perkasa berhati baja dan dengan beberapa pasang tangan.

Seorang ibu senantiasa dituntut untuk menunaikan kewajibannya yaitu menjalankan rumah tangganya, melayani suami dan mendidik serta merawat anak, namun tidak sesimpel itu pelaksanaannya.
Pekerjaan mengatur rumah tangga saja bisa menyita waktu 24 jam, dari mulai mencuci, memasak, belanja, menyusun neraca pengeluaran, ataupun menata rumah, itu semua bukan pekerjaan singkat dan mudah, sifatnya yang menjadi rutinitas makin membuat pekerjaan ini begitu melelahkan dan membosankan. Untuk sebagian Ibu yang bernasib baik dapat membayar jasa pembantu rumah tangga untuk membantu menyelesaikan pekerjaan, itupun bukan berarti sang Ibu bisa bersantai dan berbebas tugas, ia tetap harus melakukan kewajiban pemantauan atas pekerjaan para pembantunya. Dan penggunaan jasa baby sitter pun semakin marak di kalangan orang yang berpenghasilan cukup, namun tetap saja sosok Ibu yang paling diharapkan oleh sang anak, pola asuh seorang ibu tak bisa digantikan oleh apapun, dan tatib bekerja bagi para baby sitter ini pun tetap datang dari sang ibu.
Untuk urusan melayani suami, tentu tidak bisa didistribusikan kepada siapapun, bahkan dalam ajaran agama Islam disebutkan bahwa perempuan dilarang keras menolak permintaan layanan seksual yang diminta suaminya kecuali perempuan tersebut dalam kondisi sakit lelah dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa seorang Ibu yang berbaju ganda sebagi istri memiliki kewajiban absolute untuk tetap melayani suami. Sesibuk dan sepadat apapun tugas Ibu, tugas ini tetap merupakan menu wajib yang harus dijalankan oleh seorang ibu.
Masalah pengurusan anak, tidak perlu ditanyakan lagi, jelas fungsi Ibu sangat optimal disana, mengingat pada diri seorang Ibu memang telah dititipi amanah oleh Allah untuk menyampaikan ASI kepada buah hati mereka sebagai amunisi dasar bagi sang anak untuk kuat menghadapi hidup, kemudian hanya pada tubuh seorang Ibu pulalah ditempatkan rahim sebagai kantung awal kehidupan bagi seorang anak.
Mengapa hanya kaum Ibu yang dititipkan itu semua? Mengapa bukan kaum laki- laki yang notabene-nya memiliki tubuh lebih kuat dan lebih perkasa yang dititipi amanah itu? Jawabannya hanya satu yaitu karena seorang Ibu memiliki hati yang lebih lapang untuk mencinta, memberi kasih dengan segenap kelembutan. Ternyata bukan hanya sekedar tubuh yang kuat dan kekar yang diperlukan untuk memikul amanah ini.

Tugas berat itu kadangkala harus dibagi dengan tugas mencari nafkah, pada era sekarang tugas mencari nafkah bukan saja diemban oleh kaum laki-laki sebagai kepala keluarga. Dan dengan alasan yang begitu mulia pula, seorang Ibu ikut terjun mencari nafkah membantu pelaksanaan tugas suami agar roda kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan dengan baik, kebutuhan anak- anak tetap terpenuhi dan yang pasti kebutuhan aktualisasi si Ibu juga tetap terpenuhi.
Dan makin bisa terbanyangkan berapa banyak cabang pikiran yang ada di kepala seorang Ibu, dan semuanya harus berjalan dengan serentak.
Tidak semua Ibu beruntung memiliki pendapatan lebih untuk membayar jasa pembantu rumah tangga ataupun baby sitter, sehingga mereka harus menjalankan semuanya sendiri. Bukan hal yang aneh pula bila seorang Ibu bekerja harus turut mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri, memenuhi keperluan suami dan mendidik anaknya sendiri. Kita bisa menemui di jalan – jalan, di angkot- angkot, di bis kota- bis kota, seorang Ibu berwajah lelah, beratribut kantor dilengkapi tas kerja di tangan kanan dan tangan kiri menjinjing keranjang sayuran, sambil bergelayutan di padatnya kendaraan umum, dan sesampainya dirumah merekapun sudah dinanti dengan segudang pekerjaan rumah tangganya.
Untuk kehidupan pedesaan, kita juga tak jarang melihat Ibu- Ibu di pagi buta sudah mencari air, memasak, lalu berangkat ke sungai untuk mencuci dan ketika matahari mulai tinggi mereka berladang sampai matahari terbenam, setelah itu mereka kembali kerumah untuk menyiapkan sajian makan malam untuk keluarga tercinta.
Pemandangan serupa juga dapat kita temui di pasar- pasar, bahkan di ruas jalan tol menjelang dini hari kita bisa menyaksikan mobil- mobil bak terbuka yang dipenuhi kaum Ibu yang berdiri berdesakan dengan bahan sayur- mayur yang akan dijual ke pasar, mereka begitu tegar, berdiri berjam- jam diatas mobil bak terbuka menerjangang angin malam. Dan sepulang dari berjualan mereka pun telah dinanti dengan segudang tugas rumah tangga, tugas melayani suami dan mendidik anak- anak.
Mungkin kekaguman kita terhadap sosok Ibu bisa kita tambahkan bila kita membayangkan bagaimana beratnya mereka membawa bayi yang kian hari kian membesar dalam perutnya selama 9 bulan?dan bila saatnya tiba maka mereka pun harus kembali berjuang mengeluarkan bayi itu dari dalam perutnya, pernahkan kita membayangkan betapa sakitnya mengeluarkan benda sebesar bayi dari dalam tubuh?tak jarang dari mereka akhirnya merelakan nyawanya karena sudah tak kuat meneruskan usaha keras mereka untuk mengeluarkan bayi dari rahimnya. Sungguh tugas yang berat dan beresiko tinggi.

Masih banyak cerita perjuangan sehari- hari seorang Ibu yang bisa kita temui dimana saja, dipinggir jalan, di warung- warung emperan, di terminal, di mal, di kantor, di rumah sakit, dimana saja kita bisa mencermati bahwa begitu kompleksnya tugas yang diemban oleh seorang Ibu, apalagi mereka- mereka yang memang hidup dalam keluarga yang kekuarangan secara materi yang mana fasilitas atau kemudahan apapun sulit untuk didapat. Yang pasti apapun latar dari cerita perjuangan hidup mereka, menyandang dan menjalankan predikat sebagai Ibu ternyata jauh dari kesan mudah.

Namun ironisnya, di tengah kompleksnya perjuangan hidup seorang Ibu, masih banyak hal- hal yang sama sekali mengesankan tidak menghargai adanya perjuangan-perjuangan itu. Banyak hak-hak kaum Ibu yang disunat, bahkan perlindungan terhadap kaum Ibupun dipertanyakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya perselingkuhan yang dilakukan oleh kaum suami dengan berbagai alasan, penganiayaan fisik kaum Ibu dalam rumah tangga bahkan kekerasan- kerasan non fisik yang diterima oleh kaum Ibu dalam rumah tanggapun masih menjadi pemandangan hari- hari dan tak kalah ketinggalan praktik poligami ‘liar’ pun tumbuh subur dengan mengatasnamakan ajaran agama.
Apakah itu apresiasi yang tepat bagi kaum Ibu?apakah pantas perjuangan hidup mereka dibayar dengan hal- hal demikian?
Di hari ini, hari Ibu mari kita beri mereka kado terbaik untuk perjuangan mereka, sebuah penghargaan dengan tulus bahwa kita harus menentang segala bentuk kejahatan apapun yang mengancam mereka. Dukung sosialisasi UU KDRT dan mari kita sokong pemerintah merevisi UU Perkawinan.



Selamat Hari Ibu Untuk Semua Kaum Ibu Tercinta, 22 Desember 2006, Erry Tri Merryta Riyadi.

Friday, December 15, 2006

Prakata

Assalamualaikum...........

Hai semua, saya pemain baru nih disini, jadi mohon maaf sekiranya masih kliatan compang camping gini blog saya.

Saya bukan penulis handal ataupun penulis berbakat, saya cuma ingin mengeluarkan uneg- uneg saya diblog ini.
Dalam blog saya mungkin teman-teman akan banyak menemukan tulisan mengenai perempuan dan anak- anak, karena itulah interest saya. Entah karena saya adalah perempuan dan seorang ibu, yang pasti dalam kehidupan nyata saya masih sering melihat hak- hak perempuan dan anak- anak masih "dikebiri".
Semoga blog ini bisa membantu memberikan informasi yang dibutuhkan untuk perjuangan kaum perempuan dan anak- anak Indonesia.

Sejauh ini baru nilah yang bisa saya lakukan, semoga kedepannya saya bisa melakukan yang lebih baik dan lebih kongkrit, amien.............

Wassalamualaikum,
Erry Tri Merryta Riyadi

Put Your Comment Here........